Minggu, 15 Maret 2015

DISAPPOINTED SUNDAY

Minggu. Bukankah seharusnya hari ini begitu menyenangkan? Namun entah hari ini begitu mengecewakan di hati. 

Selalu, hanya bisa terdiam ketika merasakan kekecewaan. Terutama ketika merasa kecewa kepada mereka yang selalu ingin aku bahagiakan. Entah sampai kapan aku harus diam dan terus memendam apa yang aku rasakan bertahun-tahun ini. Aku tahu, aku harus mengutarakan apa yang aku rasakan tapi entah aku selalu memilih diam agar semua terlihat adem-ayem di luar.

Terkadang aku berpikir, aku ingin kembali menjadi anak kecil yang belum tahu tentang pahitnya hidup. Sebagai yang tertua, mau tak mau aku harus bisa menjadi yang paling mengerti keadaan padahal mereka tak pernah tahu jika sebenarnya kadang aku berat untuk mengerti dan memahami keadaan yang bagiku sangat sulit. Terlalu sulit bagiku hingga kadang aku sangat enggan untuk betah di bangunan indah kami. 

Terkadang aku berpikir ingin memberontak, tapi aku masih memiliki akal sehat untuk memikirkan masa depanku. Namun jika aku diam, entah sampai kapan bom dalam diriku ini akan meledak. Bukankah kesabaran seseorang itu berbatas?

Aku hanya bisa meminta kepada Yang Maha Agung, untuk menguatkan dan memberi kelancaran pada studi dan karirku kelak. Aku hanya ingin keluar dari ketergantunganku pada mereka. Aku lelah terus-terusan bergantung kepada mereka yang menurutku tidak bisa untuk kugantungi. Karena hanya kekecewaan terus menerus yang kudapat.

Dan ketika kekecewaan ini melanda, aku merasa sangat bersyukur memiliki Ander yang selalu ada untuk menguatkanku. Terimakasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar