Sore tadi, sebelumnya aku begitu semangat mengikuti sebuah forum. Ya, seperti biasa aku memang selalu bahagia berada di dalam forum tersebut. Meskipun akhir-akhir ini aku merasa sedikit tidak nyaman karena seseorang, sebut saja Nap. Dulu aku begitu dekat dengannya namun lama kelamaan sifat aslinya membuatku kurang nyaman.
Aku tiba tepat waktu dan disana baru hadir Aro dan Ira. Lalu yang lain pun berdatangan. Awalnya, aku masih dalam kondisi hati yang baik karena si Jangkung dapat membawa suasana begitu hangat, semua sama semua didengarkan dan semua mendapat proporsi bicara yang sama. Sungguh menawan komunikasi interpersonal nya. Tak heran jika dia kerap menjadi pemimpin.
Gerimis tiba-tiba mengusik pembicaraan kami di taman. Kita pun dipaksa untuk pindah. Di saat itu pula, Nap datang. Tiada yang menggangguku hingga saat aku memberi masukan untuk kelancaran suatu program yang ditanggung jawabi olehnya. Namun, seperti biasa dia membuatku kesal dan tidak nyaman, dia tak terlalu menanggapi masukanku dan seakan mengabaikannya. Seketika mood-ku melonjak turun bak roller coaster.
Atmosfer yang menyelimuti diriku begitu buruk hingga aku ingin cepat-cepat keluar dari forum itu. Sudah malas rasanya mendengarkan Nap yang terlalu banyak bicara dan membuat orang lain tidak memiliki kesempatan bicara lagi.
Yah, aku berada di dalam Bad Atmosphere. Aku hanya bisa diam. Menunggu si Jangkung mengakhiri forum tersebut. Hingga Nap menanyaiku apa yang terjadi pada diriku. Sekali lagi, aku hanya bisa diam dan menutupi apa yang sebenarnya terjadi agar tak menimbulkan masalah karena aku bukan orang yang pandai menyampaikan sesuatu.
When you on a bad atmosphere......
Diam adalah solusi terbaik agar kamu nggak bermasalah dengan orang-orang sekitarmu. Namun, kamu harus kuat dalam menahan amarahmu. Jika kamu memiliki cukup keberanian untuk mengingatkan atau membicarakannya pada orang yang menurutmu membuatmu tidak nyaman, bicarakanlah hal tersebut ketika kamu ada di dalam good atmosphere. Karena bicara dengan amarah hanya akan menciptakan masalah.
Rabu, 22 April 2015
Minggu, 15 Maret 2015
DISAPPOINTED SUNDAY
Minggu. Bukankah seharusnya hari ini begitu menyenangkan? Namun entah hari ini begitu mengecewakan di hati.
Selalu, hanya bisa terdiam ketika merasakan kekecewaan. Terutama ketika merasa kecewa kepada mereka yang selalu ingin aku bahagiakan. Entah sampai kapan aku harus diam dan terus memendam apa yang aku rasakan bertahun-tahun ini. Aku tahu, aku harus mengutarakan apa yang aku rasakan tapi entah aku selalu memilih diam agar semua terlihat adem-ayem di luar.
Terkadang aku berpikir, aku ingin kembali menjadi anak kecil yang belum tahu tentang pahitnya hidup. Sebagai yang tertua, mau tak mau aku harus bisa menjadi yang paling mengerti keadaan padahal mereka tak pernah tahu jika sebenarnya kadang aku berat untuk mengerti dan memahami keadaan yang bagiku sangat sulit. Terlalu sulit bagiku hingga kadang aku sangat enggan untuk betah di bangunan indah kami.
Terkadang aku berpikir ingin memberontak, tapi aku masih memiliki akal sehat untuk memikirkan masa depanku. Namun jika aku diam, entah sampai kapan bom dalam diriku ini akan meledak. Bukankah kesabaran seseorang itu berbatas?
Aku hanya bisa meminta kepada Yang Maha Agung, untuk menguatkan dan memberi kelancaran pada studi dan karirku kelak. Aku hanya ingin keluar dari ketergantunganku pada mereka. Aku lelah terus-terusan bergantung kepada mereka yang menurutku tidak bisa untuk kugantungi. Karena hanya kekecewaan terus menerus yang kudapat.
Dan ketika kekecewaan ini melanda, aku merasa sangat bersyukur memiliki Ander yang selalu ada untuk menguatkanku. Terimakasih.
Langganan:
Komentar (Atom)